Lovely ToBe a Muslimah

Bahagia bisa berbagi..

Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan


Siapa yang mula-mula menetapkan Tarikh Islam?

Menurut riwayat para ulama ahli tarikh yang masyhur, tarikh Islam mula-mula ditetapkan oleh Umar bin Khattab r.a. ketika ia menjadi khalifah pada tahun 17 Hijrah. Menurut kisahnya, hal ini terjadi disebabkan pada suatu hari Umar menerima sepucuk
surat dari sahabatnya, Abu Musa Al-Asy’ari r.a. tanpa dibubuhi tanggal dan hari pengirimannya. Hal itu menyulitkan bagi Umar untuk menyeleksi surat yang mana terlebih dahulu harus diurusnya, sebab ia tidak menandai antara surat yang lama dan yang baru. Oleh sebab itu, Umar mengadakan musyawarah dengan orang yang terpandang dikala itu untuk membicarakan serta menyusun masalah tarikh Islam.

Dalam musyawarah tersebut ada beberapa pilihan tahun bersejarah sebagai patokan untuk memulai tarikh Islam tersebut yaitu: tahun kelahiran Nabi Muhammad, tarikh kebangkitannya menjadi Rasul, tahun wafatnya, atau ketika Nabi hijrah dari Mekkah ke Madinah. Diantara pilihan tersebut maka akhirnya ditetapkanlah bahwa dimulai dari hari berpindahnya (hijrahnya) Nabi Muhammad dari Mekkah ke Madinah menjadi awal tarikh Islam yaitu awal tahun Hijriyah, sebagaimana dahulu telah ditetapkan bahwa, hari Nabi Isa a.s. dilahirkan ditetapkan sebagai awal tahun Miladiyah atau Masihiyah.
Kemudian setelah permulaan tahun itu diputuskan, maka dimusyawarahkan pula bulan apa yang baik dipergunakan untuk tiap-tiap awal tahun tersebut.Akhirnya setelah dipilih maka ditetapkanlah bahwa bulan Muharramlah yang dipergunakan untuk permulaan tahun Islam.


Kenapa Hijrahnya Nabi Muhammad SAW ditetapkan sebagai permulaan Tarikh Islam (Tahun Hijriah)?
Hijrahnya Nabi sangat besar artinya dalam sejarah perkembangan da’wah Islamiyah. Karena setelah Nabi Muhammad hijrah ke Madinah, da’wah Islam mulai mencapai kejayaannya yang gemilang. Kalau sebelum hijrah ummat Islam adalah golongan yang ditindas dan disiksa oleh kaum Musyrikin, maka setelah Nabi hijrah kaum muslimin telah mempunyai kedudukan yang kuat dan telah terbentuk sebuah negara Islam yang memiliki peraturan, pimpinan serta undang-undang tersendiri. Oleh karena itu diharapkan peristiwa hijrah akan dikenang oleh umat Islam pada tiap-tiap tahun bagaimana perjuangan yang gigih dan pengorbanan tenaga dan jiwa raga Nabi serta para sahabatnya dalam meneggakkan Islam. Disamping itu hijrah Nabi juga menunjukkan bahwa Allah memisahkan dan membedakan antara yang haq dan yang bathil, membedakan mana yang benar dan mana yang salah.


Apa sebab Bulan Muharram dijadikan bulan pertama bagi tahun Hijriah?
Pada dasarnya sebagaimana diriwayatkan bahwa Nabi keluar dari kota Mekkah pada hari kamis akhir bulan Shafar, dan keluar dari tempat persembunyiannya di Gua Tsur pada tanggal 2 Rabi’ul Awwal (20 September 622 M) untuk menuju ke Madinah. Dan menurut al-Mas’udi, Rasulullah memasuki Madinah tepat pada malam hari 12 Rabi’ul Awwal. Sementara Umar dan para sahabat-sahabatnya menetapkan awal bulan hijriyah adalah bulan Muharram bukannya bulan Rabi’ul Awwal adalah semata-mata memandang bahwa bulan Muharram adalah bulan yang mula-mula Nabi berniat untuk berhijrah. Selain itu di bulan Muharram ini pulalah para jama’ah haji baru selesai mengerjakan ibadah haji dan pulang kenegerinya masing-masing. Dengan adanya keputusan yang demikian itu, seolah-olah hijrah Nabi jatuh pada bulan Muharram dan dipandang patut sebagai permulaan tahun didalam Islam.
Adapun nama-nama bulan pada tahun hijrah tersebut adalah : Muharram, Shafar, Rabi’ul Awwal, Rabi’ul Akhir, Jumadil Awwal, Jumadil Akhir, Rajab, Sya’ban, Ramadhan, Syawal, Dzul Qa’dah, Dzul Hijjah.(Aida)


Referensi :
Sirah Nabawiyah, Buku Kesatu, oleh: DR. Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthy
Riwayat Nabi Muhammad, jilid II, halaman : 30 – 39.


Seorang pria mendatangi seorang alim karena dirinya tengah stress berat. Ia baru saja ditinggal oleh istrinya yang memilih kabur dengan pria lain yang ternyata adalah sahabat dekatnya sendiri. Ia tak kuat menahan beban pikirannya, hingga ia pun memilih berhenti dari pekerjaannya yang cukup mapan karena malu dengan rekan-rekan sekantornya. Ia mengurung diri, menyendiri dari lingkungan sosial. Simpati keluarga dan teman-temannya malah membuatnya semakin stress.

Lalu orang alim itu berkata,

"Begini, masa lalu adalah bagian dari hidup yang tidak dapat dipisahkan. Ibarat mengendarai mobil, masa lalu adalah kaca spion yang harus ditengok sesekali supaya anda tidak menabrak ataupun ditabrak. Masa lalu akan sangat berguna jika anda dapat mengambil manfaatnya. Masa lalu yang menyakitkan jangan membuat anda menempatkan masa lalu itu di kehidupan sekarang dan masa yang akan datang. Itu hanya akan membuat anda berhenti. Karena tak mungkin anda mengendarai mobil dengan terus menerus menatap kaca spion."

"Lalu apa yang harus saya lakukan?" tanya pria itu.

"Pertama, berdamailah dengan diri anda sendiri. Dengan kata lain, menerima kenyataan, bahwa inilah nasib yang harus anda terima. Ingat, segala yang buruk bukan dari Allah SWT. Semua yang dari Allah adalah baik. Jika anda mengalami pengkhianatan, mungkin ini adalah konsekuensi yang harus anda terima karena menikahi istri anda. Semua perbuatan diawali dengan niat. Jika anda menikah karena Allah Ta'alaa, Insyaallah rumah tangga anda akan baik-baik saja. Tapi jika anda menikah karena alasan yang lain, ya...mungkin inilah salah satu akibatnya."

Sang pria tak menjawab. Ia teringat dulu ia menikahi istrinya itu karena ia kagum dengan kepandaiannya, tutur katanya, juga sikapnya. Ia menyangka itu cukup untuk menjamin kebahagiaan berumah tangga.

"Apa berikutnya?" tanya sang pria setelah beberapa saat.

"Berikutnya, sebenarnya mudah, tapi kadang sulit dilakukan, yaitu berserah diri kepada Allah SWT. Awali dengan tobat. Jangan merasa: kok disuruh tobat kan saya yang dianiaya. Tujuan tobat adalah membersihkan diri, baik dari segala pikiran buruk, niat yang buruk, maupun perbuatan buruk. Jika diri anda bersih, maka anda sendirilah yang akan menikmatinya, bukan Allah. Jika diri anda kotor, maka anda sendiri yang akan meraskan dampaknya, bukan Allah."

Sang pria merasa malu. Memang ia merasa dirinyalah yang tengah menderita. Tak terpikirkan olehnya untuk bertobat.
"Lalu, apalagi setelah tobat?"

"Bersyukur. Ya, anda justru harus bersyukur. Apa yang harus disyukuri? Semua, mulai sejak anda dalam kandungan hingga detik ini. Bersyukurlah anda lahir dengan fisik sempurna. Bersyukurlah anda memiliki orang tua yang membesarkan anda. Bersyukurlah anda selama ini hidup berkecukupan, tidak kekurangan. Bersyukurlah anda tidak gila karena terlalu stress. Mungkin selama ini anda jarang bersyukur..."

Ia kembali merasa malu. Sepanjang hidupnya ia tak ingat kapan pernah bersyukur.

"Cukup tiga hal itu, insyaallah, anda tidak akan mengalami stress lagi." kata sang orang alim.

Niat adalah awal dari perbuatan. Selalulah berniat karena Allah. ditunjukkanNya jalan keluar terbaik.


Dari : Ervira Rusdhiana



Ini cerita tentang Anisa, seorang gadis kecil yang ceria berusia Lima tahun. Pada suatu sore, Anisa
menemani Ibunya berbelanja di suatu supermarket.
Ketika sedang menunggu giliran membayar, Anisa melihat sebentuk kalung mutiara mungil berwarna putih
berkilauan, tergantung dalam sebuah kotak berwarna pink yang sangat cantik. Kalung itu nampak begitu
indah, sehingga Anisa sangat ingin memilikinya. Tapi... Dia tahu, pasti Ibunya akan berkeberatan.
Seperti biasanya, sebelum berangkat ke supermarket dia sudah berjanji tidak akan meminta apapun selain yang sudah disetujui untuk dibeli.

Dan tadi Ibunya sudah menyetujui untuk membelikannya kaos kaki berenda yang cantik. Namun karena kalung itu sangat indah, diberanikannya bertanya.
"Ibu, bolehkah Anisa memiliki kalung ini ? Ibu boleh kembalikan kaos kaki yang tadi... " Sang Bunda segera mengambil kotak kalung dari tangan Anisa. Dibaliknya tertera harga Rp 25,000.

Dilihatnya mata Anisa yang memandangnya dengan penuh harap dan cemas.Sebenarnya dia bisa saja langsung membelikan kalung itu, namun ia tak mau bersikap tidakkonsisten...

"Oke ... Anisa, kamu boleh memiliki kalung ini. Tapi kembalikan kaos kaki yang kau pilih
tadi. Dan karena harga kalung ini lebih mahal dari kaos kaki itu,Ibu akan potong uang tabunganmu untuk minggu depan. Setuju ?"

Anisa mengangguk lega, dan segera berlari riang mengembalikan kaos kaki ke raknya.
"Terimakasih...,Ibu" Anisa sangat menyukai dan menyayangi kalung mutiaranya. Menurutnya, kalung itu membuatnya nampak cantik dan dewasa. Dia merasa secantik Ibunya. Kalung itu tak pernah lepas dari lehernya, bahkan ketika tidur.

Kalung itu hanya dilepasnya jika dia mandi atau berenang. Sebab,kata ibunya, jika basah, kalung itu
akan rusak, dan membuat lehernya menjadi hijau...

Setiap malam sebelum tidur, ayah Anisa membacakan cerita pengantar tidur. Pada suatu malam, ketika selesai membacakan sebuah cerita, Ayah bertanya :
"Anisa..., Anisa sayang Enggak sama Ayah ?"
"Tentu dong... Ayah pasti tahu kalau Anisa sayang Ayah!"
"Kalau begitu, berikan kepada Ayah kalung mutiaramu...
"Yah..., jangan dong Ayah ! Ayah boleh ambil "si-Ratu" boneka kuda dari nenek... ! Itu kesayanganku
juga
"Ya sudahlah sayang,... ngga apa-apa !". Ayah mencium pipi Anisa sebelum keluar dari kamar Anisa. Kira-kira seminggu berikutnya, setelah selesai membacakan cerita, Ayah bertanya lagi, "Anisa..., Anisa sayang nggak sih, sama Ayah?"
"Ayah, Ayah tahu bukan kalau Anisa sayang sekali pada Ayah!".
"Kalau begitu, berikan pada Ayah Kalung mutiaramu."
"Jangan Ayah... Tapi kalau Ayah mau, Ayah boleh ambil boneka Barbie ini.."Kata Anisa seraya menyerahkan boneka Barbie yang selalu menemaninya bermain.

Beberapa malam kemudian, ketika Ayah masuk ke kamarnya, Anisa sedang duduk di atas tempat tidurnya. Ketika didekati, Anisa rupanya sedang menangis diam-diam. Kedua tangannya tergenggam di atas pangkuan. air mata membasahi pipinya...
"Ada apa Anisa,kenapa Anisa ?"
Tanpa berucap sepatah pun, Anisa membuka tangan-nya.
Di dalamnya melingkar cantik kalung mutiara kesayangannya
" Kalau Ayah mau...ambillah kalung Anisa" Ayah tersenyum mengerti, diambilnya kalung itu dari tangan
mungil Anisa. Kalung itu dimasukkan ke dalam kantong celana. Dan dari kantong yang satunya, dikeluarkan sebentuk kalung mutiara putih...sama cantiknya dengan kalung yang sangat disayangi Anisa...
"Anisa... ini untuk Anisa. Sama bukan ? Memang begitu nampaknya,tapi kalung ini tidak akan membuat lehermu menjadi hijau"

Ya..., ternyata Ayah memberikan kalung mutiara asli untuk menggantikan kalung mutiara imitasi Anisa.

***

Demikian pula halnya dengan Tuhan. terkadang Dia meminta sesuatu dari kita, karena Dia berkenan untuk menggantikannya dengan yang lebih baik. Namun, kadang-kadang kita seperti atau bahkan lebih naif dari Anisa :
"Menggenggam erat sesuatu yang kita anggap amat berharga, dan oleh karenanya tidak ikhlas bila
harus kehilangan."

Cepat atau lambat,,apa yang ada pada diri kita pun akan selalu berganti,,kiranya Tuhan selalu mengingatkan kita bahwa semua milik-Nya,,tentu akan kembali kepada-Nya...

Untuk itulah perlunya sikap ikhlas,karena kita yakin tidak akan Tuhan mengambil sesuatu dari kita jika tidak akan menggantinya dengan yang lebih baik,,di dunia atau di akherat kelak,,
 
(Cerita-Cerita Motivasi)

Alhamdulillah..
Hari ini bisa terlewati, padahal membayangkannya saja, sudah membuat lelah, apalagi menjalaninya. Tapi sekali lagi alhamdulillah.. bahkan berkali-kali lisan ini mengucapkannya..
Semalam sebelumnya, terasa rumit memikirkan jadwal buat hari esok, karena kegiatan buat esok sungguh padat, bahkan amanah terakhir rasanya sulit untuk dipenuhi..
Qadarullah.. Subhanallah.. Alhamdulillah.. rencana Allah sungguh sempurna..
Dengan bergegas secepat kilat setelah menyelesaikan jadwal bimbingan dengan dosen, waktu sudah menunjukkan pukul 13.30 siang, Huaaaahhhhh... jerit dalam hati.. tinggal setengah jam lagi nih amanah menanti di cibiru.. keburu gak ya??? dengan tergesa-gesa, penuh rasa khawatir, segera menyambar hp untuk menelpon sahabat di cibiru, untuk menanyakan kemungkinan jadwal diundur.. tapi qadarullah.. Alhamdulillah.. sahabat dengan tenang mengatakan.. "Gak usah khawatir ukh, jadwalnya diundur jadi jam 3 sore"..  hmm.. RencanaNya Lebih Sempurna.. jadi serahkan saja semua padanya.. karena segala sesuatu yang telah menjadi ketetapanNya.. pasti terjadi.. pasti sempurna.. & indah..
 ALHAMDULILLAH..

I LoVe ThiS Day

"I Love this day", kata-kata tersebut.. tertuju untuk hari kemaren, tapi bukan berarti "i don't love " hari ini :), dan bukan berarti hari ini gak lebih baik dari hari kemarin. Kata-kata itu hanya untuk menggambarkan perasaan 'kami' yang begitu bahagia akan peristiwa di hari kemarin. Kami? ya.. kami karena yang mengatakan hal tersebut bukan hanya saya seorang tapi itu juga dirasakan bahkan terkatakan oleh beberapa sahabat akhwat yang lain.
happy day Pictures, Images and Photos

Betapa senangnya.. bisa berkumpul bersama akhwat & ummahat seharian dalam majelis ilmu.. hal yang uda lama gak terjadi.. alhamdulillah bisa terjadi di hari kemarin. Betapa indahnya bisa menjalin persaudaraan bersama saudara-saudara seiman atau yang lebih trend dengan istilah ukhuwah fillah. Sungguh suatu kenikmatan yang tak dapat terwakili dengan kata-kata.. tapi hanya bisa dirasakan.. sungguh nikmat.. tapi takkala ingin menggambarkan nikmat di hari kemarin.. hanya bisa terucap "I Love this day".

Ukhuwah fillah adalah ukhuwah yang tanpa batas.. hanya cukup satu syarat yaitu 'iman'.  Alhamdulillah di hari kemarin dan juga hari ini, Allah memperkenankan saya untuk mengenal saudara-saudara seiman dari beda negara. Saudara-saudara yang sudah saya kenal setahun yang lalu, ditakdirkan kembali untuk mengunjungi negara kami, serta beberapa kenalan baru yang lain. Sungguh bahagia rasanya bisa mengenal mereka. Walaupun kami dari bangsa yang beda, berbahasa yang beda, bertanah air yang beda.. kok jadi serasa sumpah pemuda ya ? tapi versi yang berlawanan.. hehe
Hanya ingin mengatakan perbedaan tak membuat kami tidak bisa menjalin ukhuwah, justru perbedaan kami menjadi sesuatu yang indah, karena kami jadi bisa berbagi banyak hal & saling menambah wawasan. Sekali lagi ukhuwah fillah bisa menyatukan orang-orang dengan begitu banyak perbedaan hanya dengan satu kesamaan yaitu 'iman'. Kami belajar tentang bahasa mereka, dan mereka belajar sedikit tentang bahasa kami, Walaupun tentu saja komunikasi di antara kami lebih banyak tersampaikan menggunakan 'universal language' atau lebih keren disebut dengan bahasa tubuh.. ^^

Kedatangan mereka bukan hanya sekedar berlibur atau menikmati keindahan alam negeriku 'indonesia' tapi juga disertai dengan tujuan yang lebih mulia yakni 'dakwah'. Jadi selama mereka berada di sini, kesempatan untuk menuntut ilmu ini pun tidak kami sia-siakan.

Dengan semangat membara.. halah2x.. lebay modeON nih.. kami mengikuti rentetan kegiatan yang ada, mulai dari mengikuti International Workshop On The Art Interacting With Human Being, yg dibawakan oleh ustad DR. Khaleel Al Hirby, seorang International Trainer dari Madinah, sejak pagi hingga menjelang dhuhur, dan dilanjutkan lagi hingga jam menunjukkan pukul 13.00 di Lembang, kemudian estafet dengan ustadzah Jumanah dan dua orang putrinya yang membawakan materi seputar pernikahan khusus membahas tentang 'Hak Suami-Istri'.
Materi-materinya (insyaAllah akan diupload secara khusus) dibawakan dengan penuh hikmah dan interaktif, tak ayal lagi membuat kami semua begitu terkesima & termangguk2.. meskipun bahasa yang digunakan adalah bahasa Arab, tapi tetep saja tak mengurangi hikmah yang tersampaikan.. apalagi disertai bantuan terjemahan dari ustad Ridwan dari Jogja untuk materi pertama dan ukhti D*** pada materi kedua (jazakumullah khayr ya..) , subhanallah.. begitu banyak ilmu yang kami peroleh.. membuat diri ini semakin merasa 'haus' akan ilmu.. khususnya ilmu dien.

Tak terasa waktu bergerak begitu cepat, dan sudah beranjak menuju waktu Ashar, saatnya untuk memenuhi panggilan Sang Khalik. Setelah sholat, saatnya untuk pulang, tentu saja setelah sesaat menikmati lezatnya rujak yang disajikan oleh panitia.. *tuk panitia.. jazakumullah khayr ya.. makanannya enyak.. enyak.. enyak.. :D

Back to Bandung..
Setelah cukup kenyang dengan memenuhi hak diri (ruh-akal-tubuh), memenuhi hak ruh dengan ibadah serta hak akal dengan berilmu serta hak tubuh dengan makanan..  saatnya untuk pulang.. kembali ke dunia masing2.. hmm.. dunia yang begitu fana & menyibukkan.. hufff, berat sekali rasanya..
Karena kebaikan sebuah keluarga kecil (abu-ummu faris & sikecil faris), jadilah kami pulang tanpa perlu naik angkot & pastinya GRATISS.. & special delivery..diantar sampe ke depan rumah masing2 euy.. *Jazakumullah khayr for faris's family.. Semoga Allah memberi begitu banyak kebaikan pada kalian..

Tapi ow.. ow.. jalanan Lembang-Bandung.. maceeeetttt pisaaaaannn..
Kendaraan jadi berjalan seperti keong.. eh siput.. eh kura-kura.. eh................... silahkan isi aja titik2nya dengan nama hewan yg bergerak lamban bahkan sangat lamban untuk menggambarkan keadaan tersebut..
Untuk melewati suasana tersebut jadilah kami mengisinya dengan begitu banyak hal.. mulai dari bercanda sampe garing, aksi jepret2 untuk menghibur sikecil Luqman yang sudah terlihat boring.. membahas hal-hal yang cukup serius.. ada yang sibuk dengan hafalan qur'an & haditsnya.. sampai terdiam & sibuk dengan pikiran masing-masing.. dan tentu saja tak lupa berdoa..
Akhirnya begitu melewati terminal ledeng, suasana berubah.., tiba-tiba saja susunan kendaraan yang berjajar rapi bak semut beriring tadi hilang entah kemana alias gak macet lagi, jadilah mobil yang kami tumpangi meluncur bak anak panah lepas dari busurnya.. menyusuri jalanan setiabudi saat menjelang waktu magrib.. dan tak lama berselang azan magrib pun berkumandang, suara yang begitu merdu membuat relaksasi setelah penat dengan hiruk pikuk jalanan & kemacetan yang baru saja terlewati, mengembalikan ke titik sadar kami untuk segera bertemu denganNya. Terlontarlah berbagai usulan, ada yang mengusulkan untuk sholat magrib d mesjid Daarut Tauhid Gerlong karena saat itu juga seorang sahabat memang turun di sana, terpikir juga untuk sholat di mesjid Al Furqon UPI (universitas Pendidikan Indonesia), dan usulan yang lain adalah mampir sholat di Warung coto Dg Tata setiabudi sekalian mengisi lambung yang suaranya sudah mulai bersaing dengan suara hiruk pikuk jalanan.. haha.. lebay.. lebay.. haha :))
hmm.. menurutmu yang mana yang akan kami pilih???
YUP betul sekali.. kok bisa tau sih?? ^^
ya iyalah.. tentu saja kami akan memilih tawaran yang paling menarik.. bener2 menarik.. PAHE alias paket hemat.. memenuhi 2 kebutuhan utama di satu tempat..ibadah & perut.. pilihan yang manakah itu? tentu saja kami sepakat memenuhi usulan yang ketiga.. karena kami juga telah 'menyandera' salah satu keluarga dari pemilik tempat tersebut.. qadarullah.. di dalam mobil yang kami tumpangi itu terdata satu orang penumpang yang sdikit-banyak punya kaitan dengan label warung tersebut.. dan usulan itupun bersumber darinya.. jadi entah berawal dari hanya sekedar menawarkan tempat sholat saja tanpa dugaan respon yang berlebihan atau benar-benar punya niat ingin berbagi rezki, atau sekedar ingin melengkapi nikmat hari itu.. dengan menikmati semangkuk coto di tengah dinginnya malam yang bertambah dingin karena disertai rinai hujan.. tapi yang jelas.. kuyakini.. bahwa dia melakukannya tulus ikhlas karena Allah.. *luv u sista.. jazakillah khair..

jreng.. jreng.. wuzzz.. wuzz.. akhirnya mobil yang membawa kami parkir di depan warung coto Dg Tata Setiabudi, segera kami disambut dengan pegawai warung tersebut, dengan memayungi kami satu persatu.. benar-benar menimbulkan kesan pertama yang baik.. membuat kami semakin yakin kalo kami akan mendapatkan kesan-kesan berikutnya yang lebih baik.. *Husnudzon modeON :)
Bergegaslah kami menunaikan sholat magrib, sesaat setelah itu.. dapat dibayangkan bukan???
hmm.. sesegera mungkin semangkuk coto segera terhidang.. saya dan beberapa yang lain memesan coto, sebagian yang lain memesan konro, mie kering, dan pisang ijo.. bisa terbayang jumlah rombongan kami? :P
Sungguh terasa nikmat.. entah karena perut kami yang memang sedang menyetel irama 'keroncong' atau karena suasana yang begitu mendukung.. rinai hujan di malam hari.. atau hanya sekedar melepaskan kepenatan setelah terbebas dari kemacetan.. atau karena yang tersaji semuanya ANUGRAH (ANU GRAHtisan ^^, pinjam istilah seorang sahabat) semuanya bercampur menjadi satu dalam satu rasa.. bahagia..
Maka sungguh.. bersama kesulitan itu ada kemudahan (Qs.94:5-6)

Begitulah yang kami rasakan.. setalah menikmati hidangan yang tersaji dengan penuh rasa bahagia.. waktunya bergegas pulang.. karena malam terus semakin beranjak ke penghujungnya.. kamipun diantar satu persatu ke kediaman masing-masing.. ada yang di seputaran itb, ada di padasuka, seputaran UNPAD jatinangor, cibiru & cimahi.. alhamdulillah hari ini ditutup dengan rasa bahagia.. walaupun lelah secara fisik tapi entah mengapa diri serasa segar.. serasa mendapatkan semangat yang membara untuk menghadapi hari esok.. sepertinya karena seharian dicharge dengan inputan yang positif sehingga meghasilkan efek yang positif.. sebelum menutup hari ini.. sy cuma pingin bilang "I Love This day".. I hope another day will be better than this day.. aamin..


Penggalan cerita ini akan menjadi kenangan indah masa lalu & pengalaman berharga sarat hikmah..
Mari berbuat hari ini untuk hari esok yang lebih cerah.. SEMANGAT!!! HAMASA!!!
I LOVE THIS DAY ^_^

-Gak Usah Bingung-

Percakapan bersama seorang sahabat di chat hari ini..membuatku ingin berbagi tentang hal yang sering dianggap wajar tapi merupakan hal yang penting..
Seringnya memudah-mudahkan syariat.. karena hanya sering merasa tidak enak atau sekedar tenggang rasa kepada teman ataupun sekitar..

"gak usah bingung2 mbak..islam kan agama yg jelas..gak ada hukum yang abu2
cuma kadang manusianya yg abu2"

Sahabat : Rin, mo tanya neh?
nokesha : ya mbak?
Sahabat : Apa hukum menghadiri pernikahan campuran, berbeda agama..Aneh kan pernikahannya? gak usah di hadiri kali ya..
nokesha : mghadiri pernikahan yg bukan walimah sj..uda gak boleh..jika dirasa di dlmnya byk campurbaur or lbh byk mudharat drpd manfaat bg kita
hmm..sy sarankan..ga usah mbak
Sahabat :  iya bener gak usah saja.
nokesha : otomatis di dlmnya akan ada tabarruj & ikhtilat
iya, gak usah

Sahabat : iya, lagian kan gak jelas pernikahannya..
nokesha : iya..afwan ya mbak..
Sahabat : iya..syukran sarannya..
nokesha : afwan
Sahabat  : kadang2 masih suka bingung menetukan pilihan
nokesha : gak usah bingung2 mbak..islam kan agama yg jelas..gak ada hukum yang abu2
cuma kadang manusianya yg abu2
Sahabat : hehehe..iya..padahal udah jelas banget aturannya ya..
nokesha : iya..tapi wajar koq..sy jg sering gitu..suka gak enakan sm temn or org lain..pdhal uda tau hukumnya jelas
Sahabat : cenderung masih mempertimbangkan lingkungan
nokesha : sedang belajar utk menjadi org yg tegas..khususnya thd diri sendiri..dlm menjalankan syariat
bukankah penilaian Allah jauh lbh penting dr penilaian manusia? pernah dengar or baca kisah ini gak mbak? kisah lukman & anaknya dan seekor keledai
Sahabat : belum..

nokesha : ...

Dalam sebuah riwayat diceritakan, pada suatu hari Luqman Hakim telah masuk ke dalam pasar dengan menaiki seekor himar*, manakala anaknya mengikut dari belakang.
Melihat tingkah laku Luqman itu, setengah orang pun berkata, 'Lihat itu orang tua yang tidak bertimbang rasa, sedangkan anaknya dibiarkan berjalan kaki."
Setelah mendengarkan desas-desus dari orang ramai maka Luqman pun turun dari himarnya itu lalu diletakkan anaknya di atas himar itu.
Melihat yang demikian, maka orang di pasar itu berkata pula, "Lihat orang tuanya berjalan kaki sedangkan anaknya enak enakan menaiki himar itu, sungguh kurang ajar anak itu."
Sebaik saja mendengar kata-kata itu, Luqman pun terus naik ke atas belakang himar itu bersama-sama dengan anaknya.
Kemudian orang ramai pula berkata lagi, "Lihat itu dua orang menaiki seekor himar, adalah sungguh menyiksa himar itu."
Oleh karena tidak suka mendengar perkataan orang, maka Luqman dan anaknya turun dari himar itu, kemudian terdengar lagi suara orang berkata, "Dua orang berjalan kaki, sedangkan himar itu tidak dikenderai."
Dalam perjalanan mereka kedua beranak itu pulang ke rumah, Luqman Hakim telah menasehati anaknya tentang sikap manusia dan telatah mereka, katanya, "Sesungguhnya tiada terlepas seseorang itu dari percakapan manusia.
Maka orang yang berakal tiadalah dia mengambil pertimbangan melainkan kepada Allah S.W.T saja.
Barang siapa mengenal kebenaran, itulah yang menjadi pertimbangannya dalam setiap mengambil tindakan."
Kemudian Luqman Hakim berpesan kepada anaknya, katanya, "Wahai anakku, tuntutlah rezeki yang halal supaya kamu tidak menjadi fakir.
Sesungguhnya tiadalah orang fakir itu melainkan tertimpa kepadanya tiga perkara, yaitu tipis keyakinannya (iman) tentang agamanya, lemah akalnya (mudah tertipu dan diperdayai orang) dan hilang kemuliaan hatinya (kepribadiannya), dan lebih celaka lagi daripada tiga perkara itu ialah orang-orang yang suka merendah-rendahkan dan meringan-ringankannya." 

nokesha : Nah..hikmahnya..kalo mau mengikuti semua apa kata org2..maka pasti perbuatan kita gak ada yg benernya..krn tiap 2 org punya pdpt yg berbeda2..
INTInya..jgn berdasar pd penilaian org lain..dlm beramal/bertindak..tp berdasarlah pd ALLAH saja..

Sahabat : iya bener banget


*himar : adalah bahasa arab yang berarti binatang sejenis keledai tunggangan

Mush'ab Bin Umair

Duta Islam Yang Pertama..
Mush'ab bin Umair salah seorang diantara para shahabat Nabi. Alangkah baiknya jika kita memulai kisah dengan pribadinya: Seorang remaja Quraisy terkemuka, seorang yang paling ganteng dan tampan, penuh dengan jiwa dan semangat kemudaan. Para muarrikh dan ahli riwayat melukiskan semangat kemudaannya dengan kalimat: "Seorang warga kota Mekah yang mempunyai nama paling harum". Ia lahir dan dibesarkan dalam kesenangan, dan tumbuh dalam lingkungannya. Mungkin tak seorangpun diantara anak-anak muda Mekah yang beruntung dimanjakan oleh kedua orang tuanya demikian rupa sebagai yang dialami Mush'ab bin Umair.
Mungkinkah kiranya anak muda yang serba kecukupan, biasa hidup mewah dan manja, menjadi buah-bibir gadis-gadis Mekah dan menjadi bintang di tempat-tempat pertemuan, akan meningkat menjadi tamsil dalam semangat kepahlawanan? Sungguh, suat riwayat penuh pesona, riwayat Mush'ab bin Umair atau "Mush'ab yang baik", sebagai biasa digelarkan oleh Kaum Muslimin. Ia salah satu diantara pribadi-pribadi Muslimin yang ditempa oleh Islam dan dididik oleh Muhammad SAW.
· Tetapi corak pribadi manakah? · Sungguh, kisah hidupnya menjadi kebanggaan bagi kemanusiaan umumnya.

Suatu hari anak muda ini mendengar berita yang telah tersebar luas dikalangan warga Mekah mengenai Muhammad Al-Amin...Muhammad SAW, yang mengatakan bahwa dirinya telah diutus Allah sebagai pembawa berita suka maupun duka, sebagi da'i yang mengajak ummat beribadat kepada Allah Yang Maha Esa. Sementara perhatian warga Mekah terpusat pada berita itu dan tiada yang menjadi buah pembicaraan mereka kecuali tentang Rasulullah SAW serta Agama yang dibawanya, maka anak muda yang manja ini paling banyak mendengar berita itu. Karena walaupun usianya masih belia, tetapi ia menjadi bunga majlis tempat-tempat pertemuan yang selalu diharapkan kehadirannya oleh para anggota dan teman-temannya. Gayanya yang tampan dan otaknya yang cerdas merupakan keistimewaan Ibnu Umair, menjadi daya pemikat dan pembuka jalan pemecahan masalah.

Diantara berita yang didengarnya ialah bahwa Rasulullah bersama pengikutnya biasa mengadakan pertemuan di suatu tempat yang terhindar jauh dari gangguan gerombolan Quraisy dan ancaman-ancamannya, yaitu di bukit Shafa di rumah Arqam bin Abil Arqam. Keraguannya tiada berjalan lama, hanya sebentar waktu ia menunggu, maka pada suatu senja didorong oleh kerinduannya pergilah ia ke rumah Arqam menyertai rombongan itu. Di tempat itu Rasulullah SAW sering berkumpul dengan para shahabatnya, tempat mengajarnya ayat-ayat Al-Qur'an dan membawa mereka shalat beribadat kepada Allah Yang Maha Akbar.
Baru saja Mush'ab mengambil tempat duduknya, ayat-ayat Al-Qur'an mulai mengalir dari kalbu Rasulullah bergema melalui kedua bibirnya dan sampai ke telinga, meresap di hati para pendengar. Di senja itu Mush'ab pun terpesona oleh untaian kalimat Rasulullah yang tepat menemui sasaran pada kalbunya.
Hampir saja anak muda itu terangkat dari tempat duduknya karena rasa haru, dan serasa terbang ia karena gembira. Tetapi Rasulullah mengulurkan tangannya yang penuh berkat dan kasih sayang dan mengurut dada pemuda yang sedang panas bergejolak, hingga tiba-tiba menjadi sebuah lubuh hati yang tenang dan damai, tak obah bagai lautan yang teduh dan dalam. Pemuda yang telah Islam dan Iman itu nampak telah memiliki ilmu dan hikmah yang luas - berlipat ganda dari ukuran usianya - dan mempunyai kepekatan hati yang mempu merubah jalan sejarah..!

Khunas binti Malik yakni ibunda Mush'ab, seorang yang berkepribadian kuat dan pendiriannya tak dapat ditawar atau diganggu gugat, Ia wanit yang disegani bahkan ditakuti.
Ketika Mush'ab menganut Islam, tiada satu kekuatanpun yang ditakuti dan dikhawatirkannya selain ibunya sendiri, bahkan walau seluruh penduduk Mekah beserta berhala-berhala para pembesar dan padang pasirnya berubah rupa menjadi suatu kekuatan yang menakutkan yang hendak menyerang dan menghancurkannya, tentulah Mush'ab akan menganggapnya enteng. Tapi tantangan dari ibunya bagi Mush'ab tidak dapat dianggap kecil. Ia pun segera berpikir keras dan mengambil keputusan untuk menyembunyikan keislamannya sampai terjadi sesuatu yang dikehendaki Allah. Demikianlah ia senantiasa bolak-balik ke rumah Arqam menghadiri majlis Rasulullah, sedang hatinya merasa bahagia dengan keimanan dan sedia menebusnya dengan amarah murka ibunya yang belum mengetahui berita keislamannya.

Tetapi di kota Mekah tiada rahasia yang tersembunyi, apalagi dalam suasana seperti itu. Mata kaum Quraisy berkeliaran dimana-mana mengikuti setiap langkah dan menyelusuri setiap jejak. Kebetulan seorang yang bernama Utsman bin Thalhah melihat Mush'ab memasuki rumah Arqam secara sembunyi. Kemudian pada hari yang lain dilihatnya pula ia shalat seperti Muhammad SAW. Secepat kilat ia mendapatkan ibu Mush'ab dan melaporkan berita yang dijamin kebenarannya.
Berdirilah Mush'ab di hadapan ibu dan keluarganya serta para pembesar Mekah yang berkumpul di rumahnya. Dengan hati yang yakin dan pasti dibacakannya ayat-ayat Al-Qur'an yang disampaikan Rasulullah untuk mencuci hati nurani mereka, mengisinya dengan hikmah dan kemuliaan, kejujuran dan ketaqwaan.
Ketika sang ibu hendak membungkam mulut peteranya dengan tamparan keras, tiba-tiba tangan yang terulur bagi anak panah itu surut dan jatuh terkulai - demi melihat nur atau cahaya yang membuat wajah yang telah berseri cemerlang itu kian berwibawa dan patut diindahkan - menimbulkan suatu ketenangan yang mendorong dihentikannya tindakan. Karena ras keibuannya, ibunda Mush'ab terhindar memukul dan menyakiti puteranya, tetapi tak dapat menahan diri dari tuntutan bela berhala-berhalanya dengan jalan lain. Dibawalah puteranyaitu ke suatu tempat terpencil di rumahnya, lalu dikurung dan dipenjarakannya amat rapat.

Demikianlah beberapa lama Mush'ab tinggal dalam kurungan sampai saat beberapa orang Muslimin hijrah ke Habsyi. Mendengar berita hijrah ini Mush'ab pun mencari muslihat, dan berhasil mengelabui ibu dan penjaga-penjaganya, lalu pergi ke Habsyi melindungkan diri. Ia tinggal di sana bersama saudara-saudaranya kaum Muslimin, lalu pulang ke Mekah. Kemudian ia pergi lagi hijrah kedua kalinya bersama para shahabat atas titah Rasulullah dan karena taat kepadanya.
Baik di Habsyi ataupun di Mekah, ujian dan penderitaan yang harus dilalui Mush'ab di tiap saat dan tempat kian meningkat. Ia selesai dan berhasil menempa corak kehidupannya menurut pola yang modelnya telah dicontohkan Muhammad SAW. Ia merasa puas bahwa kehidupannya telah layak untuk dipersembahkan bagi pengorbanan terhadap Penciptanya Yang Maha Tinggi, Tuhannya Yang Maha Akbar.
Pada Suatu hari ia tampil di hadapan beberapa orang Muslimin yang sedang duduk sedeliling Rasulullah SAW. Demi memandang Mush'ab, mereka sama menundukkan kepala dan memejamkan mata, sementara beberapa orang matanya basah karena duka. Mereka melihat Mush'ab memakai jubah usang yang bertambal-tambal, padahal belum lagi hilang dari ingatan mereka - pakaiannya sebelum masuk Islam - tak obahnya bagaikan kembang di taman, berwarna-warni dan menghamburkan bau yang wangi. Adapun Rasulullah, menatapnya dengan pandangan penuh arti, disertai cinta kasih dan syukur dalam hati, pada kedua bibirnya tersungging senyuman mulia, seraya berkata yang artinya : "Dahulu saya lihat Mush'ab ini tak ada yang mengimbangi dalam memperoleh kesenangan dari orang tuanya, kemudian ditinggalkannya semua itu demi cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya."

Semenjak ibunya merasa putus asa untuk mengembalikan Mush'ab kepada agama yang lama, ia telah menghentikan segala pemberian yang biasa dilimpahkan kepadanya, bahkan ia tak sudi nasinya dimakan orang yang telah mengingkari berhala dan patutu beroleh kutukan daripadanya, walau anak kandungnya sendiri.
Akhir pertemuan Mush'ab dengan ibunya, ketika perempuan itu hendak mencoba mengurungnya lagi sewaktu ia pulang dari Habsyi. Ia pun bersumpah dan menyatakan tekadnya untuk membunuh orang-orang suruhan ibunya bila rencana itu dilakukan. Karena san ibu telah mengetahui kebulatan tekad puteranya yang telah mengambil satu keputusan, tak ada jalan lain baginya kecuali melepasnya dengan cucuran air mata, sementara Mush'ab mengucapkan selamat berpisah dengan menangis pula.

Saat perpisahan itu menggambarkan kepada kita kegigihan luar biasa dalam kekafiran fihak ibu, sebaliknya kebulatan tekad yang lebih besar dalam mempertahankan keimanan dari fihak anak. Ketika sang ibu mengusirnya dari rumah sambil berkata : "Pergilah sesuka hatimu! Aku bukan ibumu lagi". Maka Mush'ab pun menghampiri ibunya sambil berkata : "Wahai bunda! Telah anakanda sampaikan nasihat kepada bunda, dan anakanda menaruh kasihan kepada bunda. Karena itu saksikanlah bahwa tiada Tuhan melainkan Allah, dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya".

Dengan murka dan naik darah ibunya menyahut : "Demi bintang! sekali-kali aku takkan masuk ke dalam Agamamu itu. Otakku bisa jadi rusak, dan buah pikiranku takkan diindahkan orang lagi". Demikian Mush'ab meninggalkan kemewahan dan kesenangan yang dialaminya selama itu, dan memilih hidup miskin dan sengsara. Pemuda ganteng dan perlente itu, kini telah menjadi seorang melarat dengan pakaiannya yang kasar dan usang, sehari makan dan beberapa hari menderita lapar.
Tapi jiwanya yang telah dihiasi dengan aqidah suci dan cemerlang berkat sepuhan Nur Ilahi, telah merubah dirinya menjadi seorang manusia lain, yaitu manusia yang dihormati, penuh wibawa dan disegani.


Suatu saat Mush'ab dipilih Rasulullah untuk melakukan suatu tugas maha penting saat itu. Ia menjadi duta atau utusan Rasul ke Madinah untuk mengajarkan seluk beluk Agama kepada orang-orang Anshar yang telah beriman dan bai'at kepada Rasulullah di bukit Aqabah. Di samping itu mengajak orang-orang lain untuk menganut Agama Allah, serta mempersiapkan kota Madinah untuk menyambut hijratul Rasul sebagai peristiwa besar.

Sebenarnya di kalangan shahabat ketika itu masih banyak yang lebih tua, lebih berpengaruh dan lebih dekat hubungan kekeluargaannya dengan Rasulullah daripada Mush'ab. Tetapi Rasulullah menjatuhkan pilihannya kepada "Mush'ab yang baik". Dan bukan tidak menadari sepenuhnya bahwa beliau telah memikulkan tugas amat penting ke atas pundak pemuda itu dan meyerahkan kepadanya tanggung jawab nasib Agama Islam di kota Madinah, suatu kota yang tak lama lagi akan menjadi kota tepatan atau kota hijrah, pusat para da'i dan da'wah tempat berhimpunnya penyebar Agama dan pembela Al-Islam.

Mush'ab memikul amant itu dengan bekal karunia Allah kepadanya, berupa fikiran yang cerdas dan budi yang luhur. Dengan sifat zuhud, kejujuran dan kesungguhan hati, ia berhasil melunakkan dan menawan hati penduduk Madinah hingga mereka berduyun-duyun masuk Islam. Sesampainya di Madinah, didapatinya Kaum Muslimin di sana tidak lebih dari dua belas orang, yakni hanya orang-orang yang telah bai'at di bukit Aqabah. Tetapi tiada sampai beberapa bulan kemudian, meningkatlah orang yang sama-sama memenuhi panggilan Allah dan Rasul-Nya.


Pada musim haji berikutnya dari perjanjian Aqabah, Kaum Muslimin Madinah mengirim perutusan yang mewakili mereka menemui Nabi. Dan perutusan itu dipimpin oleh guru mereka, oleh duta yang dikirim Nabi kepada mereka, yaitu Mush'ab bin Umair. Dengan tidakannya yang tepat dan bijaksana, Mush'ab bin Umair telah membuktikan bahwa pilihan Rasulullah SAW atas dirinya itu tepat. Ia memahami tugas dengan sepenuhnya, hingga tak terlanjur melampaui batas yang telah diterapkan. Ia sadar bahwa tugasnya adalah menyeru kepada Allah, menyampaikan berita gembira lahirnya suatu Agama yang mengajak manusia mencapai hidayah Allah, membimbing mereka ke jalan yang lurus. Akhlaknya mengikuti pola hidup Rasulullah SAW yang diimaninya yang mengemban kewajiban hanya menyampaikan belaka....

Di Madinah Mush'ab tinggal sebagai tamu di rumah As'ad bin Zararah. Dengan didampingi As'ad, ia pergi mengunjungi kabilah-kabilah, rumah-rumah dan tempat-tempat pertemuan, untuk membacakan ayat-ayat Kitab Suci dari Allah, menyampaikan kalimatullah "bahwa Allah Tuhan Maha Esa" secara hati-hati.
Pernah ia menghadapi beberapa peristiwa yang mengancam keselamatan diri serta shahabatnya, yang nyaris celaka kalau tidak karena kecerdasan akal dan kebesaran jiwanya. Suatu hari, ketika ia sedanga memberikan petuah kepada orang-orang, tiba-tiba disergap Usaid bin Hudlair kepala suku kabilah Abdul Asyhal di Madinah. Usaid menolong Mush'ab dengan menyentakkan lembingnya. Bukan main marah dan murkanya Usaid, menyaksikan Mush'ab yang dianggap akan mengacau dan menyelewengkan anak buahnya dari agama mereka, serta mengemukakan Tuhan Yang Maha Esa yang belum pernah mereka kenal dan dengar sebelum itu. Padahal menurut anggapan Usaid, tuhan-tuhan mereka yang bersimpuh lena di tempatnya masing-masing mudah dihubungi secara kongkrit. Jika seseorang memerlukan salah satu diantaranya, tentulah ia akan mengetahui tempatnya dan segera pergi mengunjunginya untuk memaparkan kesulitan serta menyampaikan permohonan.....Demikianlah yang tergambar dan terbayang dalam fikiran suku Abdul Asyhal. Tetapi Tuhannya Muhammad SAW - yang diserukan beribadah kepada-Nya - oleh utusan yang datang kepada mereka itu, tiadalah yang mengetahui tempat-Nya dan tak seorangpun yang dapat melihat-Nya.

Demi dilihat kedatangan Usaid bin Hudlair yang murka bagaikan api sedang berkobar kepada orang-orang Islam yang duduk bersama Mush'ab, mereka pun merasa kecut dan takut. Tetapi "Mush'ab yang baik" tetap tinggal tenang dengan air muka yang tidak berubah. Bagaikan singa hendak menerkam, Usaid berdiri di depan Mush'ab dan As'ad bin Zararah, bentaknya : "Apa maksud kalian datang ke kampung kami ini, apakah hendak membodohi rakyat kecil kami? Tinggalkan segera tempat ini, jika tak ingin segera nyawa kalian melayang!"
Seperti tenang dan mantapnya samudera dalam.....,laksana terang dan damainya cahaya fajar...., terpancarlah ketulusan hati "Mush'ab yang baik", dan bergeraklah lidahnya mengeluarkan ucapan halus, katanya : "Kenapa anda tidak duduk dan mendengarkan dulu? Seandarinya anda menyukai nanti, anda dapat menerimanya. Sebaliknya jika tidak, kami akan menghentikan apa yang tidak anda sukai itu!"
Sebenarnya Usaid seorang berakal dan berfikiran sehat. Dan sekarang ini ia diajak oleh Mush'ab untuk berbicara dan meminta pertimbangan kepada hati nuraninya sendiri. Yang dimintanya hanyalah agar ia bersedia mendengar dan bukan lainnya. Jika ia menyetujui, ia akan membiarkan Mush'ab, dan jika tidak, maka Mush'ab berjanji akan meninggalkan kampung dan masyarakat mereka untuk mencari tempat dan masyarakat lain, dengan tidak merugikan ataupun dirugikan orang lain.
"Sekarang saya insaf", ujar Usaid, lalu menjatuhkan lembingnya ke tanah dan duduk mendengarkan. Demi Mush'ab membacakan ayat-ayat Al-Qur'an dan menyampaikan da'wah yang dibawa oleh Muhammad bin Abdullah SAW, maka dada Usaid pun mulai terbuka dan bercahaya, beralun berirama mengikuti naik turunnya suara serta meresapi keindahannya. Dan belum lagi Mush'ab selesai dari uraiannya, Usaid pun berseru kepadanya dan kepada shahabatnya : "Alangkah indah dan benarnya ucapan itu . . .! Dan apakah yang harus dilakukan oleh orang yang hendak masuk Agama ini?" Maka sebagai jawabannya gemuruhlah suara tahlil, serempak seakan hendak menggoncangkan bumi. Kemudian ujar Mush'ab : "Hendaklah ia mencsucikan diri, pakaian dan badannya, serta bersaksi bahwa tiada Tuhan yang haq diibadahi melainkan Allah".

Beberapa lama Usaid meninggalkan mereka, kemudian kembali sambil memeras air dari rambutnya, lalu ia berdiri sambil menyatakan pengakuannya bahwa tiada Tuhan yang haq diibadahi melainkan Allah dan bahwa Muhammad itu utusan Allah . . . . Secepatnya berita itu pun tersiarlah. Keislaman Usaid disusul oleh kehadiran Sa'ad bin Mu'adz. Dan setelah mendengar uraian Mush'ab, Sa'ad merasa puas dan masuk Islam pula. Langkah itu disusul pula oleh Sa'ad bin Ubadah. Dan dengan keislaman mereka ini, berarti selesailah persoalan dengan berbagai suku yang ada di Madinah. Warga kota Madinah saling berdatangan dan tanya-bertanya sesama mereka : "Jika Usaid bin Hudlair, Sa'ad bin Ubadah dan Sa'ad bin Mu'adz telah masuk Islam, apalagi yang kita tunggu . . . . Ayolah kita pergi kepada Mush'ab dan beriman bersamanya! Kata orang, kebenaran itu terpancar dari celah-celah giginya!"

Demikianlah duta Rasulullah yang pertama telah mencapai hasil gemilang yang tiada taranya, suatu keberhasilan yang memang wajar dan layak diperolehnya. Hari-hari dan tahun-tahun pun berlalu, dan Rasulullah bersama para shahabatnya hijrah ke Madinah. Orang-orang Quraisy semakin geram dengan dendamnya, mereka menyiapkan tenaga untuk melanjutkan tindakan kekerasan terhadap hamba-hamba Allah yang shaleh. Terjadilah perang Badar dan kaum Quraisy pun beroleh pelajaran pahit yang menghabiskan sisa-sisa fikiran sehat mereka, hingga mereka berusaha untuk menebus kekalahan. Kemudian datanglah giliran perang Uhud, dan Kaum Muslimin pun bersiap-siap mengatur barisan. Rasulullah berdiri di tengah barisan itu, menatap setiap wajah orang beriman menyelidiki siapa yang sebaiknya membawa bendera. Maka terpanggillah "Mush'ab yang baik", dan pahlawan itu tampil sebagai pembawa bendera.

Peperangan berkobar lalu berkecamuk dengan sengitnya. Pasukan panah melanggar tidak mentaati peraturan Rasulullah, mereka meninggalkan kedudukannya di celah bukit setelah melihat orang-orang musyrik menderita kekalahan dan mengundurkan diri. Perbuatan merekaitu secepatnya merubah suasana, hingga kemenangan Kaum Muslimin beralih menjadi kekalahan. Dengan tidak diduga pasukan berkuda Quraisy menyerbu Kaum Muslimin dari puncak bukit, lalu tombak dan pedang pun berdentang bagaikan mengamuk, membantai Kaum Muslimin yang tengah kacau balau. Melihat barisan Kaum Muslimin porak poranda, musuh pun menujukan serangan ke arah Rasulullah dengan maksud menghantamnya.

Mush'ab bin Umair menyadari suasana gawat ini. Maka diacungkannya bendera setinggi-tingginya dan bagaikan ngauman singa ia bertakbir sekeras-kerasnya, lalu maju ke muka, melompat, mengelak dan berputar lalu menerkam. Minatnya tertuju untuk menarik perhatian musuh kepadanya dan melupakan Rasulullah SAW. Dengan demikian dirinya pribadi bagaikan membentuk barisan tentara.
Sungguh, walaupun seorang diri, tetapi Mush'ab bertempur laksana pasukan tentara besar . . . . Sebelah tangannya memegang bendera bagaikan tameng kesaktian, sedang yang sebelah lagi menebaskan pedang dengan matanya yang tajam . . . . Tetapi musuh kian bertambah banyak juga, mereka hendak menyeberang dengan menginjak-injak tubuhnya untuk mencapai Rasulullah.
Sekarang marilah kita perhatikan saksi mata, yang akan menceriterakan saat-saat terakhir pahlawan besar Mush'ab bin Umair. Berkata Ibnu Sa'ad : "Diceriterakan kepada kami oleh Ibrahim bin Muhammad bin Syurahbil Al-Abdari dari bapaknya. Ia berkata : "Mush'ab bin Umair adalah pembawa bendera di Perang Uhud. Tatkala barisan Kaum Muslimin pecah, Mush'ab bertahan pada kedudukannya. Datanglah seorang musuh berkuda, Ibnu Qumaiah namanya, lalu menebas tangannya hingga putus, sementara Mush'ab mengucapkan : "Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang Rasul, yang sebelumnya telah didahului oleh beberapa Rasul". Maka dipegangnya bendera dengan tangan kirinya sambil membungkuk melindunginya. Musuh pun menebas tangan kirinya itu hingga putus pula. Mush'ab membungkuk ke arah bendera, lalu dengan kedua pangkal lengan meraihnya ke dada sambil mengucapkan : "Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang Rasul, dan sebelumnya telah didahului oleh beberapa Rasul". Lalu orang berkuda itu menyerangnya ketiga kali dengan tombak, dan menusukkannya hingga tombak itu pun patah. Mush'ab pun gugur, dan bendera jatuh."
Gugurlah Mush'ab dan jatuhlah bendera . . . . Ia gugur sebagai bintang dan mahkota para syuhada . . . . Dan hal itu dialaminya setelah dengan keberanian luar biasa mengarungi kancah pengurbanan dan keimanan. Di saat itu Mush'ab berpendapat bahwa sekiranya ia gugur, tentulah jalan para pembunuh akan terbuka lebar menuju Rasulullah tanpa ada pembela yang akan mempertahankannya. Demi cintanya yang tiada terbatas kepada Rasulullah dan cemas memikirkan nasibnya nanti, ketika ia akan pergi berlalu, setiap kali pedang jatuh menerbangkan sebelah tangannya, dihiburnya dirinya dengan ucapan : "Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang Rasul, dan sebelumnya telah didahului oleh beberapa Rasul".

Kalimat yang kemudian dikukuhkan sebagai wahyu ini selalu diulang dan dibacnya sampai selesai, hingga akhirnya menjadi ayat Al-Qur'an yang selalu dibaca orang. Setelah pertempuran usai, ditemukanlah jasad pahlawan ulung yang syahid itu terbaring dengan wajah menelungkup ke tanah digenangi darahnya yang mulai . . . . Dan seolah-olah tubuh yang telah kaku itu masih takut menyaksikan bila Rasulullah ditimpa bencana, maka disembunyikan wajahnya agar tidak melihat peristiwa yang dikhawatirkan dan ditakutinya itu. Atau mungkin juga ia merasa malu karena telah gugur sebelum hatinya tenteram beroleh kepastian akan keselamatan Rasulullah, dan sebelum ia selesai menunaikan tugasnya dalam membela dan mempertahankan Raulullah sampai berhasil.
· Wahai Mush'ab cukuplah bagimu Ar-Rahman . . . . · Namamu harum semerbak dalam kehidupan
Rasulullah bersama para shahabat datang meninjau medan pertempuran untuk menyampaikan perpisahan kepada para syuhada. Ketika sampai di tempat terbaringnya jasad Mush'ab, bercucuranlah dengan deras air matanya. Berkata Khabbah Ibnul Urrat : "Kami hijrah di jalan Allah bersama Rasulullah SAW dengan mengharap keridhaan-Nya, hingga pastilah sudah pahala di sisi allah. Di antara kami ada yang telah berlalu sebelum menikmati pahalanya di dunia ini sedikit pun juga. Di antaranya ialah Mush'ab bin Umair yang tewas di perang Uhud. Tak sehelai pun kain untuk menutupinya selain sehelai burdah. Andainya ditaruh di atas kepalanya, terbukalah kedua belah kakinya. Sebaliknya bila ditutupkan di kakinya, terbukalah kepalanya. Maka sabda Rasulullah SAW : "Tutupkanlah ke bagian kepalanya, dan kakinya tutuplah dengan rumput idzkhir!"
Betapa pun luka pedih dan duka yang dalam menimpa Rasulullah karena gugur pamanda Hamzah dan dirusak tubuhnya oleh orang-orang musyrik demikian rupa, hingga bercucurlah air mata Nabi . . . . Dan betapapun penuhnya medan laga dengan mayat para shahabat dan kawan-kawannya, yang masing-masing mereka baginya merupakan panji-panji ketulusan, kesucian dan cahaya . . . Betapa juga semua itu, tapi Rasulullah tak melewatkan berhenti sejenak dekat jasad dutanya yang pertama, untuk melepas dan mengeluarkan isi hatinya . . . . Memang, Rasulullah berdiri di depan Mush'ab bin Umair dengan pandangan mata yang pendek bagai menyelubunginya dengan kesetiaan dan kasih sayang, dibacakannya ayat dalam Surah Al-Ahzab : 23 yang artinya : "Di antara orang-orang Mu'min terdapat pahlawan-pahlawan yang telah menepati janjinya dengan Allah."
Kemudian dengan mengeluh memandangi burdah yang digunakan untuk kain tutupnya, seraya bersabda : "Ketika di Mekah dulu, tak seorang pun aku lihat yang lebih halus pakaiannya dan lebih rapi rambutnya daripadanya. Tetapi sekarang ini, dengan rambutmu yang kusut masai, hanya dibalut sehelai burdah." Setelah melayangkan pandang, pandangan sayu ke arah medan serta para syuhada kawan-kawan Mush'ab yang tergeletak di atasnya, Rasulullah berseru : "Sungguh, Rasulullah akan menjadi saksi nanti di hari qiamat, bahwa tuan-tuan semua adalah syuhada di sisi Allah."
Kemudian sambil berpaling ke arah shahabat yang masih hidup, sabdanya : "Hai manusia! Berziarahlah dan berkunjunglah kepada mereka, serta ucapkanlah salam! Demi Allah yang menguasai nyawaku, tak seorang Muslim pun sampai hari qiamat yang memberi salam kepada mereka, pasti mereka akan membalasnya."

Salam atasmu wahai Mush'ab . . . . Salam atasmu sekalian, wahai para syuhada . . . . Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. ..............
 Sumber : Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia 


Mari Mengenal sahabat Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam yaitu Mush'ab bin Umair dengan lebih dekat melalui ringkasan pribadinya berikut, semoga bisa menjadi motivasi & teladan bagi diri..

*Mush'ab bin Umair adalah seorang pemuda yang berwajah tampan, kaya, cerdas namun zuhud terhadap dunia..
*Mush'ab selalu bersama Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam dan tidak pernah berpisah dari Beliau, sehingga diapun menjadi org yang paling hafal al Qur'an di kalangan kaum Muhajirin setelah 'Abdulah bin Mas'ud..
*Kaum muslimin memberinya julukan Al-Muqri (orang yang membacakan atau mengajarkan Al Qur'an)
*Mush'ab adalah  duta islam yang pertama 
*Penilaian Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam terhadap pribadi Mush'ab dengan mengatakan bahwa dia adalah seorang laki-laki yang hatinya diberi cahaya oleh Allah..maka Rasulullah pun menginginkan agar melalui tangan Mush'ab , Allah juga menyinari hati orang-orang lainnya, yaitu orang-orang yang haus akan cahaya iman..
*Mush'ab menyeru kepada agama Allah dengan menggunakan hikmah (ilmu) dan mau'izhah hasanah (nasihat yang baik)
*Dia adalah orang yang pertama kali mengimami shalat jumat di madinah
* Pada perang Uhud, ketika pasukan kaum muslimin kocar-kacir, Msh'ab tetap berada di tempatnya sambil membawa panji Rasulullah, lalu dia mengucapkan :"Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang Rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul..
Setelah kematiannya, turunlah ayat Al Qur'an yang sama persis dengan apa yang selalu diucapkan oleh Mush'ab, yaitu firman Allah :
"Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul. Sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh, kamu akan berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang; maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur." [Qs.3:144]

*Penguburan syuhada Uhud sungguh memilukan, termasuk Mus'ab. Kain kafan tidak ada yang bisa menutupi seluruh tubuhnya. Bila ditarik ke atas, maka bagian bawah tubuhnya tidak tertutup. Bila ditarik ke bawah, bagian atasnya yang terbuka. Maka Rasulullah menyuruh sahabat menutup bagian atas tubuhnya dan menaburkan rumput idzkir di bagian bawahnya. Semua terharu mengingat kehidupan Mus'ab sebelum masuk Islam dan betapa berbeda dirinya setelah menjadi syuhada..

15/11/09-Ahad kemarin, bersama dua sahabat akhwat, saya berjalan-jalan pagi untuk menghirup udara pagi.. merasakan nikmatNya saat pagi hari.. kami pun berjalan-jalan di seputaran kampus ITB. Subhanallah..Alhamdulillah..Allahu Akbar..sungguh pagi yang indah, dengan kesegaran udaranya..yang menyegarkan hingga ke rongga dada.. membuat kami sungguh tak ingin berhenti bertasbih..bertahmid..& bertakbir atas kebesaranNya dan nikmatNya..
Kami berjalan di seputaran kampus ITB dimulai dari gerbang depan hingga gerbang belakang..sambil menikmati suasana pagi di dalam kampus tersebut..tak lupa pula kami abadikan nikmat pagi itu dengan beberapa jepretan kamera hp.. ^^
Tak terasa perjalanan pagi itu berakhir dengan kesegaran, keceriaan, dan tentu saja dengan rasa lapar.. :D karena memang perut kami belum terisi sejak terbangun dari tidur.. maka tercetuslah ide untuk melengkapi nikmat pagi itu dengan menyantap bubur kacang ijo sebagai menu sarapan kami.. hmm..membayangkan kelezatan semangkuk burjo membuat perjalanan pulang semakin bersemangat..
hanya dengan 2rb rupiah..kami sudah bisa menikmati kelezatan semangkuk burjo..dan seketika bisa mengembalikan energi kami.. alhamdulillah..
next..saatnya siap2 menghadapi hari untuk amanah2  yang telah menanti.. Semangat!!! Hamasa!!! ^_^

-Bubur kacang hijau- atau yang biasa disebut bubur kacang ijo atau lebih ngetrend dengan sebutan 'BURJO'..
Tapi paman saya punya panggilan sendiri untuk makanan yang satu ini yaitu..BURKI = BubUR Kacang Ijo.. karena kami berdua boleh dikata sebagai penggemar bubur ini..
Selain karena kelezatan rasanya, juga karena kandungan gizinya yang sangat bermanfaat bagi kesehatan tubuh, dan tentu saja karena membuatnya juga tergolong 'simple'




Kita buat Yukk!!!

Bahan :
2 cup kacang hijau cuci bersih rendam sebentar
6 cm jahe segar di potong 3
Gula merah yg sudah dilarutkan
Air 700 ml

11/2 cup ketan hitam, cuci bersih rendam sebentar
Gula merah yg sdh dilarutkan
2 lembar pandan

400 cc santan kelapa (santan kental + santan cair)
Garam sedikit
1 sdt maizena untuk mengentalkan

Cara Buat :
Rebus kacang hijau dicampur 700 ml air/santan cair bagi yang suka , dan jahe didihkan sampai matang alias kacangnya pecah semua, tambahkan larutan gula merah, masak lagi sebentar, cicipi rasa manisnya. Angkat

Rebus ketan hitam, tambahkan 800 ml air, daun pandan, didihkan sampai ketan matang dan mengental, kemudian tambahkan gula, dan garam sedikit saja. Angkat

Untuk santan, didihkan santan kental, tambahkan garam, dan maizena yg sdh dilarutkan dgn sedikit air.
Boleh juga tidak memakai maizena, tapi santan terus diaduk agar tidak pecah

Taruh dlm mangkok, kacang hijau beserta ketan hitam lalu siram dengan kuah santan…
hmm...laziss..nikmat.. untuk sarapan, setelah berolahraga, cemilan sore & tentu saja saat berbuka puasa….:)

*Bubur ini juga enak disantap dengan roti tawar loh..bagi yang suka tentunya :)


Selamat Menikmati ^.^



Manfaat BURKI :
*Kacang hijau itu setidaknya mengandung vitamin B1, A, dan E ditambah kandungan-kandungan gizi lainya yang menyehatkan tubuh..

*kacang hijau berguna untuk membantu mengatasi beberapa penyakit seperti hepatitis, beri-beri, demam nifas, vertigo, kurang darah sampai terkilir, dll
 Klik di sini untuk baca lebih lengkap


Teringat kisah beberapa waktu yang silam, di sebuah kota di pulau Borneo, yang terkenal dengan keberadaan sungai Mahakam dan jembatan Mahakam.
Di suatu siang yang cukup terik seorang akhwat tampak bergegas menghidupkan sepeda motornya. Ia memang berniat keluar bersama seorang teman yang juga tinggal serumah denganya. Dia bermaksud menemani teman tersebut pergi ke sebuah pusat pertokoan di kota itu, atas permintaan dari teman tersebut. Tak lama kemudian tampaklah mereka telah berboncengan menggunakan sepeda motor yang melaju di jalan raya. Perjalanan menuju tempat yang dituju mereka akan melewati jembatan Mahakam, karena mereka berempat (mereka dan dua orang teman yang lain tinggal di satu rumah) tinggal di daerah yang disebut daerah seberang di kota itu.

Setelah melewati jembatan Mahakam..jalan di tepian sungai..akhirnya sampailah mereka di tempat yang di tuju, salah satu tempat perbelanjaan terbesar di kota itu. Setelah memrkirkan sepeda motor yang ditumpnaginya, mereka bergegas memasuki tempat tersebut. Satu persatu lantai pertokoan disusuri, hingga tibalah di lantai yang khusus menjual pakaian. Mereka sibuk melihat-lihat, khususnya teman akhwat tersebut memang bermaksud mencari sesuatu yang dibutuhkannya, tapi si akhwat tersebut tentu saja sedikit kebingungan karena tak ada satupun model pakaian yang dikenakannya ada di tempat itu.

Setelah melihat ke sana kemari, jadilah mereka menuju suatu box yang berisi potongan pakaian yang didiskon. Box itu berisi celana, rok, dan baju yang harganya sudah mendapat potongan dari harga normalnya. Tak mau bengong saja melihat temannya sibuk mencari-cari, akhirnya si akhwat tersebut juga ikut mencari-cari, walaupun dia sendiri tak tahu apa yang dicarinya, tak lama kemudian matanya tertumpu pada sebuah benda yang cukup menarik perhatiannya, karena modelnya yang bagus, tangannya pun meraihnya, mengangkat benda tersebut untuk memperhatikan lebih seksama. Setelah puas melihat dengan seksama, terbersit dalam pikirannya bahwa ia akan tampak cantik jika mengenakannya, di dalam rumah tentu saja, karena benda tersebut tak masuk dalam kriteria pakaian muslimah yang syar'i. Setelah lama membayangkan hal tersebut, ia kemudian tertarik untuk mengetahui ukurannya apakah sesuai dengan dirinya, sambil memasangkan pada dirinya ia sibuk mengamati dan berpikir..cocok gak ya? Sambil terus mencocokkan pada dirinya, ia pun bertanya kepada kepada temannya, merekapun sibuk mengomentari tentang benda tersebut, tanpa menyadari bahwa di sekitar mereka ada sepasang mata yang juga sedang ikut memperhatikan tanpa mereka ketahui. Dan tak lama kemudian pemilik sepasang mata tersebut mengeluarkan suara yang membuat mereka berdua kaget & malu seketika. Pemilik sepasang mata tersebut adalah seorang pria, dan dengan spontan berkata "tak pantas", betapa kagetnya si akhwat dan temannya, tapi si akhwat tidak hanya kaget tapi juga tiba-tiba saja terserang rasa malu yang begitu besar. Tapi tiba-tiba saja teman si akhwat tersenyum bahkan tertawa melihat hal tersebut.

Tahukah apakah benda yang sedang mereka komentari itu? Sebuah rok mini..
Hmm..akhwat & rok mini? memang sebuah pemandangan yang kontras..pantas kalo ada yang berkomentar bahwa sungguh tak pantas..

Mendengar komentar tersebut, si akhwat langsung menaruh rok mini tersebut ke dalam boxnya, dan dengan segera meninggalkan tempat tersebut agar tidak menanggung rasa malu lebih lama lagi...

Kejadian yang membuat tengsin..
Subhanallah..betapa sosok seorang akhwat dipandang begitu terhormat..sehingga dianggap tak layak untuk mengenakan rok mini sekalipun..
Jadi marilah ukhtifillah..kita menjaga kehormatan yang kita miliki..dengan terus beristiqomah dengan segala amalan diri khususnya dengan HIJAB kita..

Akhwat dan rok mini? Cocok ga sih?  ^^

Sedang ingin memotivasi diri...
Berkisah tentang kehidupan seorang akhwat yang sedang berproses untuk terus menjadi lebih baik..
Beberapa hari ini, saat dia sedang bertafaqqur & bermuhasabah..tak terasa air mata mengalir.. entahlah kenapa jika sedang bermuhasabah tentang hidup akhir-akhir ini.. khususnya beberapa tahun belakangan ini.. entah mengapa tiba-tiba ada rasa kerinduan yang muncul,  kerinduan akan suatu masa dalam kehidupannya. Masa dimana dia merasa paling bahagia dari semua masa yang telah  dia lewati dalam kehidupannya hingga detik ini, bukan berarti saat ini sedang tak bahagia..tapi entah mengapa pada masa itu hidup terasa begitu bahagia walaupun hidupnya penuh dengan ujian dariNya..tapi entah mengapa ujian-ujian tersebut bisa dihadapi dengan penuh syukur..

Pada masa kuliah dulu, tepatnya saat semester 5,  dia pernah mengalami suatu ujian yang menurut penilaian orang-orang pada umumnya, khususnya yang berada di sekitarnya merupakan hal yang cukup berat..
Qadarullah, pada saat itu dia pernah mengalami dinyatakan tidak kuliah or cuti kuliah selama satu semester dari pihak kampus, padahal dia mengikuti kuliah hingga akhir semester terbukti dengan KRS (Kartu Rencana Studi) yang dia punyai, dan parahnya lagi baru ketahuan..baru tersadari saat UAS (ujian akhir semester)..sungguh-sungguh sangat mengagetkan sekali saat akan mengikuti ujian di hari pertama UAS, pada saat akan mengisi daftar hadir peserta ujian..kok namanya tidak tercantum dalam daftar yang ada..saking tidak percaya..dan masih mencoba berprasangka baik bahwa kemungkinan kurang teliti dalam melihat, sambil trus membolak-balik lembaran daftar yang ada dan berharap akan menemukan namanya dalam lembaran-lembaran tersebut..Ya Rabb..benar2 tidak ada :( ..masih dalam perasaan yang begitu terkejut hampir tak percaya..dia terkagetkan lagi  oleh sebuah nama yang begitu sangat dikenalnya..nama seorang teman..sahabat yang sudah lama tak berjumpa tapi tetap akrab..seorang sahabat yang tadinya mereka ditakdirkan untuk kuliah di kampus* dan jurusan yang sama ..padahal sebelumnya mereka juga berasal dari sekolah yang sama..mmhh..suatu waktu akan disempatkan bercerita tentangnya..insyaAllah..tentang keakraban mereka..yang penuh dengan suka-duka.tapi lebih banyak sukanya..
Sungguh nama itu sangat tidak asing bagiku..tapi kok bisa?pikirnya.. pertanyaan itu seketika terlintas mengiringi keterkejutan yang terus bertambah..karena sepengetahuannya dan memang fakta..teman tersebut sedang cuti kuliah karena Allah mentakdirkan suatu kebaikan baginya..dia diterima bekerja di sebuah perusahaan telekomunikasi terbesar di Indonesia..sehingga dia harus meninggalkan kuliah krena lebih memilih untuk bekerja..subhanallah..
Qadarullah, NIM (Nomor Induk Mahasiswa) mereka tepat berurutan..temannya  dengan nim Dxxxxx135 dan dia Dxxxxx136..sungguh pengaturan Allah Maha Sempurna..walaupun banyak yang beranggapan bahwa semua adalah kebetulan..tapi tidak baginya, dia menganggap itulah takdir..& takdir bukanlah sebuah kebetulan..karena bukan terjadi secara tak sengaja..tapi memang merupakan perencanaan & kehendakNya..
Cukup lama dia berada dalam situasi penuh kejutan..tapi setelah itu alam sadarnya kembali..dan menuntun dia untuk segera menyadari bahwa dirinya sedang dalam masalah..sambil mencoba menenangkan diri..dan segera berfikir untuk menemukan solusi..dan diapun bertanya kepada pengawas ujian dalam ruangan itu..pengawas itupun segera memeriksa daftar yang ditunjukkan dan mencoba mencari data dirinya tapi hasilnya tetap sama. Dengan wajah yang juga terkejut & sedikit tak percaya bahkan sedikit menyelidik..pengawas itu memberikan keputusan yang cukup bijak..dengan tetap mengijinkan untuk tetap mengikuti ujian saat itu.
Bergegas meninggalkan ruangan sesaat setelah ujian, dia segera meluncur menuju suatu ruang..ya..kantor TU (tata usaha) jurusan, tak sabar ingin segera menanyakan keterkejutan yang dialaminya beberapa waktu yang lalu dan sepertinya masih terus terasa. Dengan nafas yang sedikit terengah-engah akibat ketergesaannya yang membuatnya setengah berlari, di depan loket kantor TU dia mencoba bertanya kepada seorang wanita, pegawai TU tersebut, sambil mencoba mengatur nafasnya agar lebih teratur, mulailah dia mengeluarkan pertanyaan demi pertanyaan yang sejak ujian tadi telah berkecamuk di kepalanya. Tampak ekspresi wajah dari pegawai tersebut sangat terheran seperti ekspresi wajah dirinya sewaktu mengetahui kejadian yang menimpanya. Sambil memperhatikan pegawai tersebut   memeriksa kertas-kertas yang ada di hadapannya, hatinya terus mencoba terus berharap bahwa praduga yang mulai mengisi kepalanya salah, tapi kenyataan berkata lain, dengan wajah datar pegawai itu mengatakan bahwa dirinya memang tidak terdaftar kuliah di semester ini..sepertinya tertukar dengan temannya yang namanya tertera pada daftar ujian..deg..kaget..bahkan yang lebih parah lagi akibat dari hal tersebut akan membuatnya terancam tidak dapat mengikuti kuliah semster depan karena KHS (KArtu Hasil Studi) untuk dirinya tentu saja tidak akan keluar..karena dianggap tidak kuliah di semster ini..sungguh-sungguh sangat kaget mendengar hal itu, dan mencoba menanyakan kejelasan hal tersebut, dan jawabannya lebih mengejutkan lagi, pegawai itupun tak mengerti, bahkan tak mampu untuk menjelaskan suatu alasan dari kejadian yang sedang menimpanya. Dengan berusaha untuk tetap tenang tapi tetap tak bisa menyembunyikan ekspresi wajahnya yang sudah mulai menampakkan kepanikan, dia mencoba untuk menanyakan kembali hanya untuk meyakinkan tapi jawaban yang diperoleh tetap sama bahkan terkesan tidak ikut bertanggung jawab.

Tidak puas dengan TU jurusan, diapun bergegas untuk mengecek di fakultas, tapi tetap sama dan disarankan untuk mengecek ke bagian akademik kampus dengan alasan itu wewenang mereka. Dengan langkah terus setengah berlari, sampailah dia di bagian akademik kampus..tapi ternyata hasilnya juga nihil.

Berhenti sejenak, entah karena sudah mulai merasa kelelahan secara fisik, juga karena langkah tiba-tiba tertahan karena reaksi dari hati yang menggerakkan demikian. Diam sejenak untuk berpikir sebelum melangkah lagi, hati mengajak merenungi rentetan kejadian yang baru saja terjadi.

Banyak pertanyaan yang berkecamuk di benaknya, tapi tentu saja dari sekian banyak pertanyaan tersebut dia tak boleh bertanya 'mengapa?' karena dengan demikian dia sedang mempertanyakan kehendak Sang Khalik atas sesuatu yang telah Dia takdirkan..

Hmm..sedikit bergumam sambil menarik nafas..seolah-olah sedang menganalisis sesuatu..tapi masih terus berpikir..tentang apa yang dialaminya..
Tiba-tiba..ekspresi wajahnya berubah seiring dengan lintasan fikiran & hatinya..kenapa harus bingung? bukankah semua hal yang terjadi adalah kehendakNya? Bukankah setiap kehendakNya pasti yang terbaik? Allah tidak pernah menzalimi hambaNya..begitulah dia mencoba memaknai atau lebih tepatnya menenangkan dirinya..hanya mencoba mengulang kembali setiap kata-kata yang pernah didengarkannya takkala mengikuti majelis ilmu..

Ya..dia adalah seorang akhwat yang baru saja berhijrah..baru saja mengenakan hijab..baru saja mengenal yang namanya tarbiyah..

Sungguh kehendak Allah pasti yang terbaik..bukankah apa yang dialaminnya saat ini seperti sebuah tarbiyah langsung dari Sang Khalik..baru saja dia belajar tentang ikhlas & tawakkal..dari liqo yang rutin diikutinya setiap pekan..dan seperti fase berilmu pada umumnya..setelah belajar teori bukankah akan ada praktik? lulus ujian teori dengan paham teori tentang ikhlas & tawakkal..tidak menjamin bisa lulus pada ujian praktek materi yang sama..

Jika dengan masalah yang sedang menimpanya saat itu, reaksi yang bisa ditimbulkan ada dua pilihan..yang pertama tentu saja bisa dengan bersedih & menangis..dan itu reaksi yang sangat wajar..dan pada umumnya semua orang yang sedang mempunyai suatu masalah akan bereaksi demikian..dan itu sah-sah saja..bahkan semua orang akan sangat paham dan mewajarinya..
Yang kedua bisa  dengan reaksi yang berbeda..mencoba ikhlas, ridho, bahkan bersyukur..serta menghadapinya dengan senyuman..suatu reaksi yang tentu saja kebanyakan orang justru akan memandangnya sebagai hal yang tidak wajar..

Tapi bukankah memang demikian islam mengajarkan..bagaimana seharusnya sikap setiap muslim jika ditimpa suatu masalah yaitu..ikhlas..sabar..ridho..syukur..serta tak boleh mengeluh..
Kalo dia mengambil reaksi yang pertama..dengan sedih & menangis..apakah itu akan menyelesaikan masalah? hmm tentu tidak jika tanpa ikhtiar..justru hanya akan mengundang prihatin orang sekitar..

Hmm..kenapa tidak mencoba reaksi yang kedua..seperti yang dituntunkan bagi setiap muslim? bukankah jika ia ingin mendapatkan penilaian yang terbaik dariNya..tentu saja dia harus berlaku seperti tuntunanNya..walopun sulit tapi bukan berarti tidak bisa..toh semakin sulit sesuatu maka nilainya akan semakin besar bukan? bukankah hasil diperoleh tergantung pada proses/ metode/ cara yang digunakan? jadi..jika ingin mendapatkan hasil yang luar baiasa..maka gunakanlah cara yang juga luar biasa..masih terus menyemangati diri..menguatkan diri untuk melakukan hal yang diluar biasanya..

Bukankah seharusnya dia bersyukur dan merasa beruntung? Karena merasa bahwa kasih sayang Allah sungguh besar..betapa tidak bukankah ujian merupakan bentuk penjagaan Allah atas ilmunya? setelah teori tentang ikhlas & tawakkal sudah dia pelajari..hingga tahap mencoba memahami..Allah memberikan ujian untuk bisa mempraktekkan sehingga bisa benar2 memahami melalui amalan..

Bukankah pahala amalan ini sungguh besar? Bukankah Allah menyukai hamba2Nya yang sabar? Siapa yang tak ingin disukai bahkan dicintai oleh Dia? itulah tujuan setiap hamba..dicintai oleh Pemiliknya..
Dan jika Allah telah mentakdirkan hal itu padanya..kenapa ia harus menolaknya..bukankah seharusnya dia bersyukur dan menerimanya dengan ikhlas dan senang..karena Allah telah memilihnya dari sekian ribu mahasiswa yang ada di kampus itu..dia terpilih untuk merasakan nikmat tersebut?

Bukankah dalam Al Qur'an surah Al insyirah ayat 5&6 telah jelas..
" Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan" [5]
" Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan"[6]

sampai terulang dua kali dalam surah tersebut, berarti ada makna penegasan di situ..so itu pasti..apalagi yang bisa membuatnya ragu..kalo itu pasti benar..

Sambil terus mendengungkan ayat tersebut..baik secara lisan maupun  dalam hati..untuk lebih memaknainya..untuk menguatkan diri..akhirnya dia bangkit dan mulai melangkah lagi..
Disusurinya kembali koridor-koridor kampus yang telah dilewatinya..tapi kali ini dalam arah yang berlawanan..dengan ekspresi yang berlawanan..dia menuju kembali ke TU jurusan.

Tapi entah mengapa langkah kali ini terasa berbeda..kalo sebelumnya dia melangkah bergegas..terasa berat & melelahkan..dengan ekspresi wajah yang penuh beban..tapi dengan menempuh jalan yang sama arah yang berlawanan.. langkah kali ini terasa begitu ringan..dengan ekspresi wajah yang penuh senyuman dan tampak lebih tenang bahkan berseri-seri..
Seperti mendapatkan energi yang sangat-sangat besar..langkah kali ini tak membuat lelah..entah bagaimana bisa..energi yang terasa jadi bertambah berkali-kali lipat jumlahnya dari sebelumnya..padahal seharusnya sebaliknya..hmm..itulah energi yang datang dari sumber kekuatan Yang Maha Kuat..pasti itu..Jika semua diikhlaskan dan diserahkan hanya kepadaNya..maka tidak ada hal yang tidak mungkin..
yakinilah itu..
Bukankah Allah mendatangkan masalah satu paket dengan solusinya? seperti pada surah Al insyirah ayat 5-6..kesulitan bersama kemudahan..

So tak ada yang perlu ditakutkan..tak ada yang perlu dikhawatirkan..serahkan saja padaNya..
Pikiran itu yang terus mengiringi perjalanannya melewati koridor..menaiki tangga..sehingga energi terasa semakin bertambah..
ya..ternyata kalo kita mencoba memandang suatu hal dari sudut pandang yang berbeda, maka kita akan melihat yang berbeda pula..

Kalo saya mengibaratkan..orang yang sedang mengalami masalah seperti sedang berada dalam kotak..sempit..pandangan jadi terbatas hanya dapat melihat sisi-sisi kotak itu saja..masalah terlihat begitu besar & sulit diselesaikan..tapi cobalah keluar dari kotak itu maka pandangan akan terlihat lebih luas tak terbatas..maka masalah terlihat menjadi lebih kecil dengan luasnya pandangan yang ada..

Tak terasa, langkahnya berhenti di depan loket jurusan, menyapa kembali ibu pegawai yang tadi, tapi kali ini dengan senyuman & tutur bahasa yang sudah jauh lebih tenang..akhirnya dia mendapatkan usulan langkah alternatif yang bisa dia ambil untuk menyelesaikan masalah itu.. setidaknya masih ada harapan dia bisa tetap ikut ujian & mendapatkan KHS untuk semester ini.
Sungguh benar..jangan pernah menyerahkan atau menyandarkan segala masalah yang dihadapi kepada makhluk..serahkan kepada Sang Khali..Yang Maha Berkuasa..Maha Berkehendak..

Hari yang penuh kejutan ini pun berakhir dengan membawa harapan untuk esok. Hari -hari ujian berikutnya dijalani dengan lancar, walaupun di setiap ujian dia harus mau mengorbankan waktu ujiannya untuk mengisi daftar hadir khusus, beserta perlakuan khusus..sedikit pemeriksaan KRS dan KTM (Kartu Tanda Mahasiswa) sebagai pembuktian bahwa dia benar-benar mengikuti kuliah tersebut..sesuai dengan solusi yang ditawarkan oleh pihak jurusan.

Masa ujianpun berakhir, tapi masalah belum berakhir, tentu saja setelah ujian akan ada pengumuman nilai. Dan dia sekali lagi harus menerima bahwa nilainya tidak akan terumumkan, jadi untuk mengetahui nilainya dia harus mengecek langsung ke pihak jurusan. Bahkan bukan itu saja, untuk mendapatkan KHS, ia harus membuat sendiri beserta surat keterangan nilai & pernyataan dari semua dosen dari setiap mata kuliah yang diambilnya.

Jika mau memikirkan kembali apa yang akan dilakukan, tentu terasa berat tapi tak perlu dipikirkan lagi tapi hanya perlu melakukannya saja maka semua akan selesai. Masih dengan semangat, penuh rasa syukur dan tetap dengan senyuman semua dijalaninya, sambil terus mencoba mencari hikmah dibaliknya..

Setelah hampir semua dosen telah ditemui dengan suka-dukanya masing-masing. Sebenarnya bukan hal yang sulit jika semua dosen memang profesional dalam arti bahwa mereka mengarsipkan dengan baik semua nilai-nilai mahasiswa, tapi tidak semuanya demikian, ada beberapa yang mempunyai arsip yang lengkap jadi tak terlalu sulit, tinggal menjelaskan kasusnya memperlihat bukti KRS, maka dengan mudah nilai diperoleh, tapi berbeda dengan dosen yang tak terlalu memperhatikan tentan pengarsipan nilai mahasiswa, terasa lebih sulit, karena mereka sendiri bingung mau memberi nilai seperti apa.

Berkisah di suatu siang hari yang cukup terik, dia menelpon ke seorang dosen mata kuliah yang diambilnya, berhubung dosen tersebut sedang tak berada di kampus, maka dia menelpon dan menanyakan untuk membuat janji bertemu. Akhirnya diputuskanlah setelah mendapat persetujuan dari dosen yang bersangkutan, dia akan bertemu dosen di rumahnya, siang itu juga. Karena rumah dosen tersebut terbilang cukup jauh, jadi perjalanan yang ditempuh sekitar satu jam dengan menggunakan angkutan kota atau yang dikenal dengan sebutan 'pete-pete'** di kota itu. Sampailah ia di suatu kompleks perumahan dosen, dengan suara yang datar mulailah ia mengucapkan salam sambil mengetuk pintu rumah dosennya, selang beberapa lama, terdengara sahutan dari dalam rumah menjawab salamnya yang diirngi dengan terbukanya pintu rumah tersebut. Seorang anak laki-laki berdiri di depan pintu yang terbuka sambil bertanya "cari siapa?"Sambil tersenyum dia menjelaskan maksud kedatangannya, tapi ternyata apa yang terjadi, bapak dosen yang dicari sedang istirahat siang alias tidur sesaat sebelum kedatangannya, menurut keterangan dari anak laki-laki tersebut.

Qadarullah..
Dengan sedikit kecewa, tapi tetap dengan senyuman ia pamit dan melangkah meninggalkan halaman rumah tersebut, tapi dia tidak pulang, dia memutuskan untuk menunggu hingga petang bersama seorang teman di sebuah kedai makan di sekitar perumahan, mereka memesan bakso sebagai teman mereka ngobrol hingga petang. Setelah menyelesaikan obrolan & makanan mereka, kembalilah mereka menuju kembali ke rumah dosennya.

Sesampai di sana ternyata dosen tersebut belum bangun, tapi karena hari sudah sangat petang bahkan sudah menjelang maghrib dan tentu saja ditambah kedatangan kami, maka beliau dibangunkan. Sempat terbersit rasa khawatir, membayangkan akan bertemu dengan orang yang dibangunkan dari tidur kemudian disodori masalah pula..tapi segera ditepisnya perasaan tersebut, dan berusaha tetap tenang dan berdoa dalam hati  sambil menunggu kedatangan dosen tersebut. Selang beberapa lama kemudian tampaklah dosen yang dinantinya, tampak dari wajahnya memang seperti orang yang baru bangun dan tidak tersenyum sedikitpun, mungkin dia masih mereka-reka mencoba mengenali orang yang sedang bertamu tersebut. Dosen tersebut langsung duduk dan bertanya, dengan mencoba tenang dan tetap tersenyum dia mencoba menjelaskan maksud kedatangannya, tampak di wajah dosennya tersebut kurang suka mendengar persoalan yang dijelaskannya bahkan hampir menolak permintaannya, karena ternyata dosen itu tidak mempunyai arsip nilai mahasiwanya. Tapi dengan cukup meyakinkan bahwa dia sangat membutuhkan pertolongan ini ditambah dengan memperlihatkan bukti bahwa dia mengikuti kuliah tersebut, akhirnya dosennya mau juga membantu dengan terlebih dahulu menanyakan tentang nilai teman-temannya yang sudah keluar.

Sekedar info saja, nilai matakulah yang dikeluarkan dosen tersebut hampir tidak ada yang bagus rata-rata C dan D, jadi sempat juga ragu untuk mendapatkan nilai yang bagus saat itu.

Diserahkannya lembaran kertas nilai dan pernyataan kepada dosen tersebut, tentu saja teriring harapan akan mendapat nilai yang bagus. Mulailah dosen tersebut meberi nilai dan menandatangani lembaran tersebut, dan begitu sampai pada lembaran terakhir, dosen itu kembali melihat ke lembar yang pertama dan ekspresi wajahnya langsung berubah, terheran sambil berkatan " kok saya melingkari nilai 'A' ya?" Saya juga kaget mendengarnya karena belum mengerti terhadap apa yang sedang terjadi, ternyata pada lembaran pertama dosen tersebut bermaksud memberi nilai 'B' tapi untuk tiga lembar berikutnya dia memberi nilai 'A', tapi dia belum menandatangani lembaran yang terakhir dan tertegun sesaat dan tampak bingung. Tapi akhirnya dia berkata lagi "sudahlah, yang diambil tiga lembar ini saja dan yang satu lembar ini tak usah diambil. Jadi maksudnya dosen itu memberi nilai A.

Alhamdulillah wa syukurillah..syukur dalam hati..ekspresi wajahnya terlihat terheran & tak percaya atas apa yang baru saja terjadi, sambil memandang ke arah teman di sebelahnya dengan tersenyum penuh keheranan dan tentu saja kebahagiaan atas kejadian yang baru saja berlangsung, dia segera mengambil lembaran nilainya tersebut, merapikannya, dan bergegas pamit pulang, tentu saja tidak lupa mengucapkan terimakasih kepada dosennya tersebut.

Sungguh dengan rasa syukur yang tak terhenti, dia mencoba memaknai kembali perjalanannya sampai detik ini..
Inilah salah satu kebaikan yang ingin Allah berikan kepadanya melalui proses yang cukup panjang..
Allah akan berlaku sebagaimana prasangka hambaNya..jadi tetaplah berprasangka baik padaNya dalam setiap keadaan baik senang maupun sulit..

Tak hanya itu saja ternyata Allah hendak menjadikannya manusia yang lebih manfaat bagi orang di sekitarnya...karena setelah kejadian itu..beberapa temannya mengalami kasus yang sama hanya saja tidak sekompleks masalah yang dihadapinya, karena teman-temannya tersebut hanya bermasalah pada satu ata u dua matakuliah jadi solusinya jauh lebih mudah apalagi ditambahkan penjelasan dan langkah-langkah yang dijelaskannya kepada mereka yang meminta bantuan, sehingga mereka tidak perlu merasakan kesulitan proses yang dirasakannya akibat kurang bertanggungjawabnya pihak-pihak yang harus bertanggungjawab.

Dari penggalan kisah ini..bisa diambil pelajaran yang sangat berharga..
Hadapilah setiap musibah dengan ikhlas, sabar,ridho, syukur dan senyuman maka akan menjadikanmu orang-orang muslim yang 'luar biasa'..
Cobalah memandang setiap masalah dari sisi pandang yang lain..seperti teorema kotak yang dijelaskan di atas..
Berprasangka baiklah kepada Allah maka Allah akan berlaku seperti prasangkamu..
Masalah akan terasa ringan takkala diserahkan pada Allah..karena Dia akan memberimu kekuatan untuk menghadapinya..
Teruslah ikhtiar, berdoa, berharap dan tawakkal kepadaNya...yakinlah segala yang ditakdirkan olehNya untuk setiap hambaNya pastilah yang terbaik..

Wallahu'alam..
Semoga bisa menjadi ibroh..khususnya dalam menghadapi setiap masalah yang datang..
Lebih bersemangat lagi menghadapi hidup ini..karena yakin Allah pasti akan selalu menolong hamba2Nya yang meminta kepadaNya..

Semangat.. hamasaa ^____^

Kejadian berdasar pada kisah nyata seorang akhwat ...
*Salah satu perguruan tinggi negeri terkenal di kota daeng
**Sebutan angkutan umum di kota daeng

Bagi yang telah berkunjung..

Powered By Blogger